Setelah Sepuluh Tahun

Aku sekarang lagi di kereta bawah tanah menuju Alexanderplatz. Di salah satu stasiun tadi, dari sekian wajah yang aku liat sekilas-sekilas, ada seorang penjual koran jalanan sekaligus peminta sedekah yang sepertinya tidak punya penghasilan cukup. Aku ngenalin dia dari wajahnya. Kadang liat dia di subway atau di jalan. Pertama kali liat si orang ini sepuluh tahun yg lalu, waktu aku datang ke Berlin. Dulu agak kaget karena ga ngira bahwa akan ada peminta-minta di negara maju dengan sistem sosial yg menjamin kesejahteraan setiap warganya. Selain itu dilihat dari wajah dan bahasanya, terlihat bahwa beliau adalah orang sini, bukan imigran gelap yang tidak memiliki hak atas jaminal sosial.
 
Setelah tinggal di sini lebih lama dan tanya orang-orang lokal soal situasi pengembara jalanan, aku jadi tau: ternyata warga negara Jerman di sini kalo sampe hidup di jalanan adalah karena pilihan. Kalau mereka mau, sebetulnya ada dasar hukum yang dapat memberi mereka tunjangan hidup yang cukup. Walau pun pas-pas-an… tapi sudah melingkupi segala kebutuhan dasar seperti: asuransi kesehatan, tempat tinggal, makanan dan pakaian. Cuma ya gitu, tiap orang punya alasan sendiri-sendiri untuk ga mendayagunakan kesempatan ini. Ada yg karena “pride”, ada yang karena malas urus birokrasi, ada yang karena kurang sehat mental, dll. Dengan alasan-alasan itu mereka tetap tinggal di jalanan  atau meminta-minta di tengah keramaian.
 
Kembali ke si orang di atas, aku jadi kepikiran aja. Dulu aku datang ke sini untuk kuliah. Sekarang sudah selesai. Sudah beberapa kali berganti pekerjaan. Sudah melihat banyak hal. Sudah cukup jatuh bangun. Sudah lebih dewasa dari 10 tahun yang lalu. Tapi ketika ketemu orang itu tadi, dia masih melakukan hal yang sama. Aku ga bilang dia ga improve dirinya loh ya. Cuma kan karena ga kenal, pas ktemu ya cuma bisa liat dari luarnya aja.
 
Aku ga mau komentar apa-apa soal dia. Apalagi berasumsi dan menghakimi ini itu. Pun aku ga punya pesan moral atau opini apa-apa sebetulnya. Cuma pengen cerita. Makasih kalo dah baca sampe poin ini, smoga ga kecewa. Aku si liatnya semua orang punya masalah masing-masing dan latar belakang yang berbeda-beda. While so, then who am I to judge? Aku bersyukur masih bisa liat orang itu setelah sepuluh tahun berlalu. Bersyukur bahwa aku dan dia masih sama-sama diberi kesempatan hidup.
 
Sugih – Suatu malam di Februari 2016
(Diambil dari salah satu tulisannya di Path)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s